Header Ads

Kisah Nyata Aksi Genosida PKI, Beruntung Pensiunan Guru Ini Lolos dari Maut


Massa PKI pimpinan Amir Muso yang menguasai Madiun dan Magetan 68 tahun lalu, memakai pesta gambyong untuk menarik massa. Dari situ mereka yang tidak sepaham diculik dan dibunuh di Pabrik Gula (PG) Redjosari, Kecamatan Gorang-Gareng, Magetan. Sukarjo, 72, yang lolos dari pembantaian, menceritakan kisah pilu itu.

Sebagai anak Lurah Desa Bogem, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Sukarjo setiap hari menyaksikan sandera dan tawanan PKI. Rumahnya dipaksa menampung seluruh sandera sebelum dieksekusi. Saat itu usianya masih belasan tahun.

Seluruh lurah dan pejabat desa dipaksa menampung tawanan. Cara menangkap mereka yang tidak seideologi dengan mengadakan pesta gambyong. Ini pesta ledek yang selalu meriah. Sontak dalam pesta yang diadakan serempak itu menyedot ratusan warga. Sejak sore warga tidak curiga dengan pesta massal itu. Menjelang tengah malam, satu per satu orang yang tidak seideologi dengan PKI langsung ditawan. Mereka dimasukkan dalam gudang PG Redjosari.

"Dalam gudang pabrik gula itu semua tawanan PKI dikumpulkan ditembaki dari luar melalui jendela-jendela gudang. Saya melihat darah merembes keluar dari bawah pintu gudang," kenang mantan aktivis Islam ini. Bahunya mengedik, sisa pemandangan itu seperti di depan matanya. Gudang maut ini sekarang sudah dihancurkan dan dipakai lapangan sepak bola.

Pensiunan guru ini beruntung luput dari pemeriksaan. "Setelah menjalani penyiksaan di PG Redjosari, para tawanan diangkut dengan gerbong Kertapati. Dalam gerbong tua berukuran 3x8 meter itu seluruh tawanan ditumpuk, mati dan hidup," kata Mbah Sukarjo yang saya temui Sabtu (29/9). Mereka yang belum mati langsung dimasukkan ke dalam dua sumur tua di Desa Soco, Kecamatan Bendo, Magetan, dan dikubur hidup-hidup.

Kedua sumur itu berjarak 800 meter dan dipisahkan sungai desa. Sumur pertama yang saat ini dikenal dengan Monumen Soco (Monumen Tetenger Korban Pemberontakan PKI Tahun 1948) berisi 108 orang korban. Hanya 68 orang dikenali. Di sumur sedalam 18 meter itu juga ditimbun Kiai Soehoed, pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan, yang juga ayah kandung mantan Ketua DPR/MPR RI, Kharis Suhud. Sumur kedua berisi sekitar 50 korban lainnya.

Menyaksikan darah dan terutama wajah para tawanan sesaat sebelum dieksekusi membuat Mbah Karjo mengalami trauma berat. "Serangan yang cepat dan kekejaman yang di luar akal manusia menyebabkan kami sulit menghilangkan trauma pemberotakan PKI itu. Dulu, kami akan merasa terhibur jika masih mengetahui kawan seperti pasukan TNI dan polisi. Hanya mereka yang saat pemberontakan itu bisa jelas diketahui lawan atau kawan. Sulit membedakan warga kebanyakan, lawan atau kawan," ujar Mbah Karjo.

Sangat tipis batas antara teman atau lawan. Mereka yang menjadi tawanan politik PKI itu adalah orang-orang yang tak mengenal sandi-sandi PKI yang setiap hari berubah. Di antara sandi itu adalah kata gula harus dijawab bubuk, sandi 7 harus dijawab 3, 1 dijawab 9, dan 0 dijawab 10.

Selain itu juga ada slogan hidup nyerempet-nyerempet bahaya. "Jika seseorang yang bertemu PKI tak bisa menjawab sandi, langsung ditangkap dan selanjutnya dieksekusi mati," imbuh lelaki yang saat itu menjadi pelajar Sekolah Rakyat (SR) Genengan, Kecamatan Gorang-Gareng, Magetan.

Tercatat hanya dalam 7 hari mulai 18 September 1948 itu PKI menguasai sebagian Karesidenan Madiun. Meski hanya seminggu, warga saling curiga meski masih bersaudara. Sebab, sebagian ikut menjadi anggota PKI dan sebagian lagi tidak. Seperti di kampung kelahiran Mbah Karjo di Desa Bogem, Kecamatan Kawedanan. Saat itu hampir seluruh warga menjadi anggota PKI. Yang tidak ikut terpaksa mengungsi ke Gunung Bancak atau masuk ke dalam gua bawah tanah.

Nyaman, 66, penjaga Monumen Soco bercerita, ketika PKI dipukul mundur, pasukan Siliwangi dibantu Brimob menggali sumur pembantaian di Desa Soco. Selain itu di Desa Bogem, Kecamatan Kawedanan ditemukan 22 korban. Seluruh jenazah dipindah ke Taman Makam Pahlawan Kota Madiun. "Di sini ya hanya tinggal monumen ini yang hanya digunakan untuk Upacara Peringatan 1 Oktober saja," kata Nyaman.

No comments

www.updategeh.com. Powered by Blogger.