Header Ads

Dialog DN. Aidit Kepada AH. Nasution...."Aku Diburu dan Dihargai di Negara Yang Sama"

D.N. Aidit pada tahun 1965 itu telah mencapai puncak dalam karir politiknya. Dia menerima penghargaan tertinggi dari negara yakni Bintang Mahaputera, atas kepahlawanan berikut keteladanan yang telah ia berikan dalam political leadership. Presiden Sukarno memberikan penghargaan itu kepadanya pada tanggal 13 September 1965, dalam sebuah upacara resmi di Istana Negara.

Ya, hanya 17 hari sebelum G30S itu.

Jenderal A.H. Nasution hadir dalam upacara penganugerahan tersebut. Dengan bintang Mahaputera tersemat di dada kirinya, Aidit menghampiri Nasution, dan mengamati tanda jasa pada pakaian militer resmi jenderal itu.

“Manakah dari sederet pita-pita jasa di dada Jenderal, mengenai operasi militer dalam Peristiwa Madiun tahun 1948?” tanya Aidit kepada Nasution.

Nasution tentu saja langsung menunjukkannya. Dengan senyum penuh percaya diri Aidit lalu menggandeng Nasution, menuju ke sekelompok wartawan dan meminta memotret mereka. Aidit pada waktu itu adalah Menteri Koordinator dalam Kabinet Dwikora. Ia juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara. Lihatlah kemenanganku.

"Aku yang dulu diburu oleh negara sebagai pemberontak, kini menerima penghargaan tertinggi dari  negara yang sama!"

*

         Apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1948 itu?

Pada mulanya adalah Muso. Tokoh pendiri PKI dan otak pemberontakan komunis tahun 1926 itu kembali dari Rusia, dan  bergabung lagi dengan partainya. Muso lalu menjadi ketua PKI, dan Aidit, umur 25 tahun ketika itu, dipercaya memegang divisi penting sebagai koordinator seksi perburuhan.

Muso memperkenalkan konsep Jalan Baru Bagi Republik, wujudnya adalah pendirian Soviet Republik Indonesia, yang sejalan dengan pemikiran Aidit. Dengan lekas, Madiun, Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa PKI.

Yang disebut pemberontakan Madiun adalah peristiwa pada tanggal 18 September 1948, ketika puluhan ribu buruh dan tani mengambil alih pemerintahan di Madiun, Jawa Timur. Panglima Soedirman saat itu sedang berada Magelang. Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI Kolonel AH Nasution dipanggil Presiden Sukarno menghadapnya di Gedung Agung, kantor pemerintahan sementara di Yogyakarta.

Kolonel Gatot Subroto memimpin Divisi Siliwangi menumpas pemberontakan tersebut dengan lekas. Muso dan Amir Syarifudddin ditangkap dan dieksekusi mati. Aidit meloloskan setelah sempat ditahan di penjara Wirogunan.

Dan menghilang.

Untuk kemudian kembali membangun lagi PKI.

*

Sembilan tahun kemudian.

Pada tanggal 11 Februari 1957, D.N. Aidit berpidato di DPR menjelaskan – atau mengaburkan – peristiwa Madiun 1948 itu. Seorang anggota DPR dari Masyumi mengangkat lagi isu itu, mencoba membuka jalan politis, kemungkinan untuk mengajukan ke pengadilan tokoh-tokoh PKI yang terlihat, tentu termasuk Aidit.

Inilah akibatnya jika soal-soal di masa lalu tidak dituntaskan. Antara yang salah dan yang benar terbolak-balik, campur-baur.

read more Narakata

No comments

www.updategeh.com. Powered by Blogger.