Header Ads

Mengenang Tragedi Pembunuhan Marwa El-Sharbini di Gedung Pengadilan


Berawal dari sebuah taman bermain pada 21 Agustus 2008. Pria bernama Wiels yang sedang menyertai kemenakannya bermain di taman yang terletak di distrik Johanstadt Dresden, terlibat perselisihan dengan seorang wanita berjilbab kelahiran Mesir bernama Marwah el-Sharbini yang juga membawa anaknya ke taman yang sama untuk bermain. 

Keduanya bertengkar seputar siapa anak yang mestinya bermain ayunan di taman tersebut, Kemenakan Wiels atau anak el-Sharbini. Pertengkaran tersebut memanas. 

Wiels yang memperoleh kewarganegaraan Jerman setelah berimgrasi dari Rusia pada tahun 2003 itu, melontarkan penghinaan kepada Marwa yang kebetulan sedang menggunakan jilbab dengan panggilan teroris, bahkan menurut salah satu laporan wiels sempat menyebutnya dengan kata 'slut' kepada ibu satu anak tersebut. 

Suami Marwa pun tak luput dari gangguan pria tersebut . Gangguan terus - menerus itulah yang menjadi alasan Ma rwa El -Sherbini mengajukan tuntutan untuk memperkarakan Alex Weins berkaitan dengan gangguan keamanan, pelecehan agama, dan tindakan tidak senonoh di depan anak kecil ya ng disidangkan di Dresden, Jerman. 

Setelah dua kali menolak untuk membayar denda terkait pernyataan rasialisnya, pada sebuah persidangan, Wiels mencoba mejustifikasi penghinaannya dengan menyatakan  bahwa "Orang seperti Marwa" bukanlah manusia dan karena itu tidak bisa merasakan yang namanya penghinaan. 

Namun, saat persidangan berlangsung, tersangka kemudian menikam Marwa El - Sherbini saat akan keluar ruang sidang. Suaminya yang ingin melindungi Marwa pun mendapat tikaman dari Alex Wiens sebanyak 16 kali di daerah leher, tangan dan sekitar tubuh. 

Pada saat itu juga Marwa El -Sherbini meninggal di tempat, sementara suaminya sendiri selamat dan dibawa ke Rumah Sakit, walau sempat dalam keadaan kritis. Tidak beberapa lama kemudian Suami Marwa mengajukan sidang tuntutan atas Pembunuhan kepada Alex Wiens. 

Namun pengacara dan beberapa pembela Alex Wiens mengungkapkan bahwa Alex menderita “schizophrenia”.

Setelah  menelan waktu cukup panjang, akhirnya hakim memutuskan bahwa Alex Wiens bersalah, dan dijatuhi hukuman penjara. 

Kematian Marwa bertepatan dengan kematian Michael Jackson. Ribuan orang di Mesir mengantar jenazah Marwa El -Sherbini ke tempat peristirahatan terakhir, tentu saja tidak sehebat dan semegah acara kematian Michael Jackson. 

Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar. Tapi, kepergian Marwa El -Sherbini adalah lambang jihad seorang muslim. Peristiwa ini sepi dari pemberitaan di media massa Jerman dan mungkin dari pemberitaan media massa asing dunia, karena yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang anti - Islam. 

Situasinya mungkin akan berbeda jika yang menjadi korban adalah orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Beritanya dipastikan akan gempar dan mendunia.

Itulah sebabnya, televisi hanya sibuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa El -Sherbini yang mendapat sebutan “Pahlawan Jilbab” . Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin dunia untuknya. 

Meski pemerintah Jerman berusaha menutup- nutupi kematian Marwa El -Sherbini, cerita tentang Marwa El -Sherbini menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. 

Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara. Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab Abeer Pharaon lewat situs Islamonline. 

Abeer mengatakan, Marwa El -She rbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. “Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia,” kata Abeer. 

“Dan kini setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai HARI JILBAB INTERNASIONAL Untuk mengenang kepergian beliau.

Marwa El -Sherbini merupakan wanita muslimah kelahiran Mesir pada tahun 1977. Di tahun 2008 ia yang telah memiliki putra bernama Mustafa pindah ke Dresden, Jerman, tempat suaminya Elwi Ali - Okaz yang bekerja sebagai dosen dengan jabatan doktor di Max Planck Institute for Molecular Cell Biology and Genetics. Marwa bekerja di University Hospital Dresden dan di apotek lokal. Bersama dengan beberapa orang lainnya, Marwa mendirikan sebuah asosiasi sukarela dengan tujuan membangun pusat budaya dan pendidikan Islam di Dresden. Marwa El -Sherbini adalah seorang yang ramah. Keramahan tersebut tidak dapat membendung kebencian Alex Wiens seorang pria kewarganegaraan Jerman yang “Anti - Islam”.

No comments

www.updategeh.com. Powered by Blogger.