Header Ads

Paham Terorisme, Panglima TNI : Bagian dari Proxi War

Panglima TNI Gatot Nurmantyo

Seperti dilansir Republika, Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum dihadapan 490 mahasiswa Pascasarjana Universitas Pertahanan di PMPP IPSC, Sentul, Bogor, pekan kemarin menyampaikan bahwa Bangsa Indonesia harus waspada terhadap paham terorisme karena teroris adalah sebagian dari proxy war.

Dalam kesempatan itu Panglima TNI menyampaikan beberapa hasil survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian, seperti,

Wahid Foundation pada 2016 mengatakan, setidaknya 7,7 persen Muslim Indonesia bersedia berpartisipasi dengan teroris. Sebanyak 0,4 persen pernah berpartisipasi dengan teroris.

Sedangkan Setara institute mengatakan, ada 35,7 persen siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung intoleran pasif, sekitar 2,4 persen intolerar aktif, dan 0,3 persen berpotensi menjadi teroris.

Hasil survei yang sama juga disampaikan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada tahun 2011 bahwa, 26,7 persen mahasiswa Islam setuju jihad dengan kekerasan 68,4 persen tidak setuju.

Sedangkan CSRC UIN Jakarta pada 2008-2009 mengeluarkan hasil survei, di mana 45 persen takmir masjid di Jakarta mewajibkan berdirinya Negara Islam dan 26 persen jihad melawan kaum non-Muslim, serta 32 persen wajib perjuangkan khilafah, sementara 14 persen wajib perangi pemerintah yang tidak melakukan syariah.

“Dapat dibayangkan betapa perekrutan teroris sangat mudah dengan menggunakan media sosial dan teroris Indonesia memiliki dana yang cukup besar. Dana teroris yang masuk ke Indonesia paling besar dari Australia bukan negara Australia ya, tetapi dari wilayah Australia, Malaysia, Brunei dan Filipina, di mana teroris yang telah dilatih disiapkan untuk masuk ke Indonesia,” kata Gatot.

Proxy war atau Perang proksi adalah perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Sementara kekuasaan kadang-kadang digunakan pemerintah sebagai proksi, aktor non-negara kekerasan, dan tentara bayaran, pihak ketiga lainnya yang lebih sering digunakan. 

Diharapkan bahwa kelompok-kelompok ini bisa menyerang lawan tanpa menyebabkan perang skala penuh. Perang Proksi juga telah berjuang bersama konflik skala penuh. Hal ini hampir mustahil untuk memiliki perang proksi yang murni, sebagai kelompok berjuang untuk bangsa tertentu biasanya memiliki kepentingan mereka sendiri, yang dapat menyimpang dari orang-orang dari patron mereka. 

Biasanya perang proksi berfungsi terbaik selama perang dingin, karena mereka menjadi kebutuhan dalam melakukan konflik bersenjata antara setidaknya dua pihak yang berperang sambil terus perang dingin.


No comments

www.updategeh.com. Powered by Blogger.