Analisa Tumbuh Kembang Anak antara Ahok, Sandiaga Uno dan Mardani Ali Sera

Sandiaga Uno, Mardani Ali Sera dan Tahapan Masa Kecil yang Tuntas

Ketika nama Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera mencuat ke publik untuk menjadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur (Cagub dan Cawagub) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, saya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Keduanya pernah bertemu dengan saya, bukan cuma perjumpaan sekilas layaknya seorang tokoh dengan penggemarnya.

Sekitar awal tahun 2008, saya berkesempatan mewawancarai secara khusus Sandiaga Uno di kantornya. Pengusaha muda sukses itu menjadi salah satu tokoh yang kisah hidupnya akan dimuat di majalah ESQ 165 Edisi 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Saya yang waktu itu menjadi redakturnya, sungguh terkesan dengan sikap dan perilaku Sandiaga sepanjang wawancara.

Sandiaga begitu cerdas, humble, bersahaja, murah senyum. Tak ada arogansi atau keangkuhan sedikitpun dari sikap yang dia perlihatkan. Dan yang paling berkesan adalah tutur katanya yang santun, teratur, runut dengan intonasi yang menyejukkan siapapun yang mendengarnya.

Sesi wawancara eksklusif itu sungguh mengesankan dan terus terngiang hingga 8 tahun berjalan. Hanya ada satu penyesalan: saya tak foto bersama dengannya.

Berbeda dengan Sandiaga, perjumpaan saya dengan Mardani bukan berbingkai wawancara khusus. Kali pertama saya bertemu dengannya pada 2012 saat beliau mengundang konstituennya dalam acara buka puasa bersama di kediamannya, Komplek Iqro, Pondok Gede.

Setahun kemudian saya meminta beliau untuk memberikan endorsement buku saya yang berjudul MASIHKAH PKS BERMASA DEPAN? Komunikasi kami lakukan via BBM. Dengan ramah dan telaten beliau melayani saya yang baru sekali berjumpa dengannya. Padahal saat itu Mardani sudah menjadi anggota DPR. Cukup panjang kalimat yang beliau tuliskan untuk buku saya. Sayang, percakapan saya dengan beliau sirna karena Blackverry saya rusak.

Lalu menjelang pemilu 2014, saya yang ketika itu mendapat amanah sebagai Ketua DPRa PKS Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mengundang beliau dalam acara konsolidasi kader. Tanpa diduga, undangan tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Beliau datang meski yang kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh tingkat ranting, struktur terendah di PKS.

"Akh Erwyn, insya Allah saya hadir ya. Paginya isi liqo dulu," kata beliau dalam pesan singkatnya via BBM.

Dari sekian kisah interaksi saya dengan Ust. Mardani, banyak kesan yang saya dapatkan. Tentang ketulusan melayani, kecerdasan, keramahan, kebersahajaan. Dan terakhir adalah tentang kesantunan bertutur kata.

Pengalaman bersua Sandiaga dan Mardani membuat saya teringat dengan Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D. Keduanya saya jumpai dalam acara Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta pada 2011.

Menurut keduanya, ada empat tahapan penyelesaian konflik yaitu: Pasif (Passive), Serangan Fisik (Physical Aggression), Serangan Bahasa (Verbal Aggression), dan Bahasa (Language)
.
Tahapan pertama Pasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.

Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul.

Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!”

Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya.

Sandiaga-Mardani bagi saya sudah menuntaskan tahapan perkembangan masa kecilnya yang tercermin dalam penggunaan kata dan kalimat. Keduanya sudah sampai pada tahapan Bahasa atau Language. Kita akan sulit mendengar kata atau kalimat kasar yang menyerang (verbal aggression) dari mulut keduanya. Dan itulah yang saya alami ketika berjumpa keduanya.

Duet ini datang pada saat yang tepat ketika hampir 5 tahun terakhir kita disuguhi deretan kata kasar yang menyerang banyak pihak dari mulut seorang pemimpin di ibukota Indonesia. Bagi Anda yang lupa, saya coba mengingatkannya.

1. “Bakar setengah Jakarta”
Ahok menyatakan penyelesaian masalah di Ibu Kota harus bertahap dan butuh waktu. Hanya cara ekstrem dan berisiko bisa mengubah Jakarta dengan cepat. “Kamu mau cepat benerin Jakarta. Bakar setengahnya Jakarta!” kata Ahok di Balai Kota, Rabu 5 Juni 2013.

2. “Yang jual beli lahan pemerintah bajingan”
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sempat dibuat pusing oleh sikap warga bantaran Waduk Pluit yang menolak direlokasi. Ahok menuding ada banyak kepentingan yang menunggangi warga sekitar Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, sehinga sulit direlokasi.
“Kalau jujur dan baik kami kasih modal dan Anda bisa berubah nasib, asal mau berusaha. Tapi kalau hidup Anda mau jual beli lahan milik pemerintah maka Anda bajingan. Pelanggaran itu jelas bagi saya,” ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Senin 13 Mei 2013.

3. “Ada bajingan oknum PNS di DKI.”
Ahok sempat mengucapkan kata bajingan ketika dituding menggunakan dana CSR untuk mengelola Ahok center. Ahok membantah tegas dan yakin isu itu sengaja dihembuskan untuk menyerang dirinya.
“Ini kedua kalinya ada bajingan-bajingan oknum PNS di DKI yang tidak suka dengan saya,” kata Ahok beberapa waktu lalu.

4. “…Orang Bego gitu kamu…”
Ahok mengeluarkan kata bego saat mengomentari fenomena politisi yang jelang pemilu rajin bertandang ke paranormal. Anehnya, menurut Ahok, banyak politisi yang percaya kalau dukun bisa mendulang suara pemilih.
“Kalau gitu kesempatan dong. Kita bisa pura-pura jadi dukun kalau banyak orang bego gitu kamu bisa dapat duit banyak. Dung dung pret. Itu film Benyamin dukun palsu,” ujar Ahok sembari tertawa di Balai Kota Jakarta, Selasa 17 September lalu.

5. “Brengsek sekali…”
Ahok mengatakan brengsek kepada orang yang memfitnah dirinya. Bahkan saking kesalnya, Ahok berpesan kepada wartawan agar mencatat nama dan pangkat PNS yang mengaku belum dibayar gajinya.
“Minta tolong kalau wawancara sama PNS, catat nama dan pangkatnya siapa, kalau rekamannya jelas, saya kasih sanksi. Brengsek sekali main fitnah, gitu loh,” kata Ahok di Balai Kota, Rabu, 17 Juli lalu.

6. Bila perlu bunuh di tempat.”
Dalam pernyataannya di acara Pelaksanaan Revitalisasi Kring Serse Jajaran Polda Metro Jaya, di Ecopark Ancol, Jakarta Utara, Selasa (14/10), Ahok meminta petugas tidak segan untuk menembak mati pelaku anarkis yang mengancam nyawa banyak orang.

“Ini tugas pemerintah kalau ada kelompok bertindak anarkis dan justru mengancam nyawa banyak orang, saya minta petugas untuk tindak tegas, bila perlu bunuh di tempat sekalipun ada kamera TV menyorot,” kata Ahok.

Kerapnya Ahok berkata kasar tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah ia tak tuntas menjalani tahapan saat masih kecil sesuai dengan teori yang dipaparkan di atas? Verbal aggression dilakukan oleh anak dalam rentang usia 4-6 tahun. Tahapan ini akan berhasil dilalui oleh seorang anak saat lingkungan di sekitarnya memberikan pijakan terhadap kata-kata serangan yang diucapkannya. Pijakan itu berupa penjelasan tentang tak baiknya kata tersebut diucapkan dan tidak bolehnya kalimat itu dilontarkan.

Ketika seorang anak mendapatkan pijakan tersebut dari orang-orang di sekitarnya, maka tahapan verbal aggression akan tuntas dilaluinya. Namun, ketika tak ada pijakan, maka tahapan ini tak akan pernah tuntas dan itu akan terbawa sampai ia dewasa. Bagi mereka yang tak tuntas melewati tahapan tersebut, segala persoalan bisa diselesaikan dengan verbal aggression.

Tuntasnya tahapan perkembangan masa kecil menjadi modal sangat berharga bagi seorang pemimpin di level apapun, terlebih lagi gubernur. Karena dengan itu, ia akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga atau pengikutnya. Ketika rasa aman dan nyaman dimiliki, maka kecintaan kepada pemimpin akan tumbuh dengan sendirinya.

Sebaliknya, jika tahapan masa kecil tersebut tak tuntas, maka kita akan menyaksikan hal-hal yang mengenaskan. Penggusuran dimana-mana, caci maki tak berkesudahan dan ujungnya adalah Sang Gubernur mendapat kawalan puluhan Brimob saat bertugas untuk menghindari timpukan batu dari warganya sendiri. Dan itulah yang kini terjadi.

Pada akhirnya, Sandiaga-Mardani adalah sebuah antitesa dari petahana yang memunculkan asa baru warga Jakarta. Jika kelak keduanya terpilih memimpin ibukota tercinta, bisa dipastikan bukan cuma saya yang beruntung. Semoga.

Erwyn Kurniawan
Penulis
FB: Erwyn Kurniawan
Twitter: Erwyn2002
deskripsi gambar

0 Response to "Analisa Tumbuh Kembang Anak antara Ahok, Sandiaga Uno dan Mardani Ali Sera"

Post a Comment

www.updategeh.com. Powered by Blogger.