ULAMA Yang Larang Pilih Pemimpin Kafir = TERORIS ?

Ulama Yang Larang Pilih Pemimpin Kafir = Teroris ?
oleh Rizal Amri, Pengamat Sosial Politik

Pernyataan kontroversial calon gubernur petahana DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mengutip surat Al-Maidah, terus menimbulkan reaksi. Muncul petisi agar Ahok meminta maaf atas ucapannya. Petisi tersebut dalam waktu singkat sudah ditandatangani puluhan ribu orang. Selain itu, organisasi Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) juga mendatangi Bareskrim Polri untuk melaporkan Ahok atas tuduhan penistaan agama. Beberapa ormas Islam juga berencana untuk melaporkan  Ahok ke pihak berwenang.

Di pihak lain, muncul pula pembelaan terhadap Ahok. Akhmad Sahal yang berdomisili di Amerika, membuat tulisan "Penjelasan masuk akal tentang 'Ahok dan Al Maidah'. Teman Ahok lalu mengicaukan ulang tulisan Ahmad Sahal tersebut.


Sahal yang merupakan aktivis Jaringan Islam Liberal itu, dalam tulisannya menyebutkan bahwa Ahok tidak bermaksud menghina Alquran. Namun hanya mengomentari fenomena adanya manipulasi kesadaran orang dengan memakai ayat Al Maidah dan ayat-ayat lainnya untuk melarang pemimpin non-Muslim.


Ahmad Sahal lalu menyamakan orang-orang yang dimaksud Ahok, membohongi dengan surat al-MAidah ayat 51 itu, sama dengan teroris.


“Situasi ini sama seperti saat bagaimana ekstremis-ektremis memanipulasi kesadaran publik dengan memakai ayat-ayat jihad. "Misal ketika kita bilang, 'jangan mau dibodohi teroris dengan ayat-ayat jihad' Apakah itu menghina Alquran?Tentu tidak!," tulis Sahal.


Selain itu, Sahal juga menganggap SARA anjuran dari ulama Islam untuk tidak memilih pemimpin yang kafir."Yang dipersoalkan Ahok bukan ayat-ayat Alquran yang suci dan mulia, tetapi ulah sekelompok orang yang mempolitisinya untuk mengobarkan sentimen SARA.", tulisnya.

Sahal tampaknya luput mencermati esensi yang membuat ummat Islam tersinggung dengan perkataan Ahok yang menghebohkan ini.

"Bapak Ibu ndak Bisa memilih Saya. dibohongi pake surah Al-Maidah 51 dan macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya, jika Bapak Ibu perasaan tidak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, ya enggak apa-apa? Karena inikan panggilan pribadi bapak-ibu. Program ini jalan saja. Jadi, bapak ibu tak usah merasa enggak enak dalam nuraninya enggak bisa memilih Ahok." demikian ucapan Ahok dalam video yang sudah beredar di masyarakat.


Poin yang sangat disesalkan, klaim Ahok yang seolah-olah penafsirannya tentang surat Al-Maidah ayat 51 itu, adalah yang paling benar. Kemudian penafsiran yang sebaliknya dianggap sebagai kebohongan dan pembodohan.


Padahal penafsiran yang melarang ummat Islam memilih pemimpin yang tidak seagama, boleh dibilang adalah pendapat main stream. Mayoritas ulama Islam sepakat dengan hal itu. Hal itu lantaran ayat-ayat tentang larangan mimilih pemimpin kafir, tidak hanya ada di surat al-Maidah ayat 51, namun terdapat pada banyak ayat lainnya.


Menurut KH Abdullah Gymanstiar (Aa Gym), ada tujuh ayat di dalam Al Quran yang menyiratkan larangan memilih pemimpin kafir.
“Larangan memilih pemimpin kafir, ada tujuh ayat. Surat Alim Imran ayat 28, Surat An Nisa ayat 144, Surat Al Maidah ayat 57, Surat At Taubah ayat 23, Surat Al Mujadilah ayat 22, Surat Ali Imran ayat 149-150 dan Surat Al Maidah ayat 51. Tujuh ayat menyatakan larangan memilih pemimpin yang tidak seaqidah,” tegas Aa Gym.


Lagi pula, dalam kapasitas apa, Ahok merasa berhak mengklaim penafsirannya yang paling benar. Di dalam Islam, orang yang boleh menafsirkan al-Qur’an hanyalah ulama-ulama yang sudah mumpuni. Ulama tafsir punya kritera yang ketat, harus menguasai berbagai disiplin ilmu tentang al-qur’an, hadits, bahasa Arab dan juga hukum-hukum Islam.


Sahal sepertinya menutup mata terhadap sikap Ahok yang merasa paling benar itu. Padahal kalangan liberal biasanya paling sewot terhadap orang yang mengklaim penafsirannya adalah paling benar.
Kepahaman Sahal soal isu SARA juga patut dipertanyakan. Ketua KPUD DKI Sumarno sudah pernah menegaskan bahwa ajakan pemuka agama, baik ulama maupun pendeta kepada jamaahnya untuk memilih salah satu calon gubernur DKI 2017 bukan termasuk SARA. Hal itu dibolehkan, selama itu disampaikan dalam koridor yang wajar alias tanpa caci maki.


"Ajakan pemuka agama (ulama) kepada umat yang seagama untuk memilih atau tidak memilih pemimpin (muslim/non muslim) bukan termasuk SARA," jelas Sumarno, Selasa (20/9/2016).
Sumarno lalu menjelaskan batasan isu SARA, yakni tidak boleh ada unsur penghinaan.
"Batasannya sangat umum, yaitu tidak boleh menghina agama, suku, ras dan adat istiadat pihak lain," jelas dia.


Jika ummat Islam merasa dilecehkan oleh pernyataan Ahok, jangan-jangan beliau yang sesungguhnya telah memainkan isu SARA.
deskripsi gambar

0 Response to "ULAMA Yang Larang Pilih Pemimpin Kafir = TERORIS ?"

Post a Comment

www.updategeh.com. Powered by Blogger.