Header Ads

Maraknya Aksi "Islamophobia", Imam Feisal Serukan " Jadilah Islam Amerika"

Imam Feisal Abdul Rauf dalam sebuah acara  ‘Today, I Am A Muslim, Too’ di Times Square 6 Maret 2011 di kota New York

Untuk melawan cara pandangan agama yang radikal dan Islamophobia, Muslim di AS harus menjadi seorang "Islam Amerika" kata Imam Feisal Abdul Rauf mantan pemimpin projek Islamic Center Ground Zer di Manhattan dekat lokasi serangan teroris 11 September.

Imam Rauf, merupakan salah seorang dari"100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia" pada tahun 2011 oleh majalah Times,

Seperti diketahui hubungan antara Islam dan Amerika sedang berjalan statis, atau bergerak ke arah yang tidak jelas. bahkan kenyatannya lebih kompleks lagi, katanya.

"Ini seperti pasar saham; kadang naik dandan kadang turun. ... Tetapi saya percaya hubungan kita nantinya akan terjalin lebih baik. " kata Imam Feisal

Berikut adalah kutipan dari percakapan di yang dilansir Huffington Post

Apa yang anda lakukan melihat situasi saat ini yang terjadi kepada umat Islam di Amerika?

Setelah pemerintahan eksekutif Amerika dipegang Presiden Trump  dukungan pun mengalir kepada kami diantaranya dari para pengacara dan ACLU [American Civil Liberties Union] , mereka berjuang telah berjuang bersama dengan kami.

Hal ini membuat warga Muslim di sini merasa bahwa  memiliki banyak teman di Amerika, yang menganggap Muslim sebagai bagian dari Amerika.

Kebijakan Trump ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bekerja sama dan mengembangkan kemitraan dengan dengan orang-orang dari agama lain untuk membawa perubahan positif.

Lihatlah para rabi yang berdemonstrasi menentang kebijakan Trump pada ditangkap, saya bicara di sebuah gereja di jalan 71.

Hal penting apa yang harus dilakukan saat ini? 

Salah satu hal yang perlu kita lakukan di sini di Amerika adalah untuk merumuskan apa yang saya sebut "Amerika Islam." Saya tidak berarti bahwa ada Islam yang berbeda.

Islam menyebar dari Semenanjung Arab ke Mesir, Kekaisaran Romawi Timur (yang saat ini Turki), Persia, India, dan budayanya diterjemahkan sendiri ke dalam konteks lokal - seperti dalam musik, arsitektur, hukum positif.

Anda akan melihat masjid di Cina, mereka terlihat seperti bangunan Cina pada umumnya dengan atap yang khas dan hal ini tidak bertentangan dengan Al Qur'an, atau sunnah.

Kita perlu menerjemahkan iman dan budaya Islam ke dalam bahasa Amerika, budaya dan hukum positipnya sehingga tercipta sebuah "Identitas Muslim Amerika" seperti cara kita berpakaian, dan hal lainnya.

Tetapi kenyataannya lebih kompleks. Ini seperti pasar saham. " Di sini, di Cordoba House, kami sedang melatih para imam dengan  budaya dengan terintegrasikan dengan kehidupan Amerika

Pertentangan ini tidak hanya antara Amerika dan Islam, tetapi antara kaum moderat dan para ekstrimis dari semua agama.

Jadi saya harus bekerja sama dengan orang-orang Kristen yang berpikiran sama, Yahudi, Hindu, Budha, ateis, yang percaya bahwa tempat ini diciptakan untuk kita semua.

Kita harus memerangi ekstrimis di semua lini kehidupan, walaupun itu seorang ekstremis Kristen atau Muslim.

Apa yang terjadi jika keberagaman tersebut bisa terintegrasi dalam sebuah masyarakat Amerika?

Di dalam Islam , kami memiliki keberagaman tersebut yang disebut dengan istilah
"umat" atau masyarakat.

Kami memiliki Muslim di Senegal, Mesir, Iran, Turki. kami memiliki budaya kami yang beragam dan itu bisa diterima.

Jika hal itu terjadi, maka masyarakat Amerika akan menerima Islam sebagai agama Amerika, bukan agama Arab. Itu terjadi di negara-negara Muslim, karena orang-orang melihat Islam sebagai agama mereka sendiri, seperti Pakistan melihatnya sebagai agamanya warga Pakistan.

Jika Anda mengatakan "Tidak, aku harus berpakaian seperti layaknya orang Arab, atau seperti Pakistan untuk menjadi seorang Muslim yang baik di Amerika," maka Islam akan terlihat asing.

Apa yang perlu dilakukan untuk membangun hubungan kepercayaan antara publik Amerika dengan Islam?

Kebanyakan orang yang memiliki pendapat negatif tentang Islam, mereka tidak tahu Muslim yang sebenarnya seperti apa. Seperti halnya mayoritas orang di negara-negara Muslim yang membenci Amerika , karena mereka belum pernah ke Amerika.

 Mereka tidak mengetahui situasi yang terjadi di Amerika atau mereka tidak melihat keanekaragaman juga ada di Amerika. Mereka pikir semua orang di Amerika setuju dengan kebijakan pemerintahannya yang melakukan pengeboman seperti halnya di Afghanistan.

Itu tidak benar; banyak orang Amerika menentang kebijakan negara ini.

Mungkinkah kebijakan Amerika mengenai Timur Tengah bisa berubah?

Segalanya mungkin terjadi, tetapi kami harus terlibat. Siapa yang memimpin dan Kebijakan pemerintahannya selalu berubah, dan hal tersebut bukan mengenai kekuatan individu tertentu (iwan)

No comments

www.updategeh.com. Powered by Blogger.