SUAP POLITIK , Yang Memberi dan Yang Menerima Masuk NERAKA

Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) telah membahas fatwa haram terkait praktik politik uang (Money Politic). Hal ini lahir atas keprihatinan NU tentang maraknya berbagai cara yang dilakukan dalam praktek money politic,  tak terkecuali dalam kemasan sedekah dan zakat.

Seperti dilansir Okezone (11/9/2012) Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa perbuatan risywah atau suap dalam politik sama dengan perbuatan korupsi
"Risywah (suap) dalam politik sama halnya dengan melakukan korupsi yang merupakan perbuatan keji dan diharamkan oleh agama," tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (10/9/2012).

Risywah atau suap dalam prakteknya bisa berbentuk sedekah dan zakat, maupun pemberian uang secara langsung dan tak langsung, komitmen pada sebuah janji, ataupun cara-cara lain yang bertujuan mempengaruhi pilihan dalam sebuah pesta demokrasi, baik pemilihan presiden, kepala daerah, dan legislatif.


Kata Said, wacana fatwa halal atau haram sedekah untuk   kepentingan politik itu sendiri akan dibahas dan  dipertegas dalam forum bahtsul masail diniyah waqiiyyah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat,   15-17 September mendatang.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka Barat M Toha mengungkapkan bahwa istilah money politik yakni memberi sesuatu ke orang, kemudian yang memberi menyuruh agar memilih dia, money politik istilahnya untuk membeli suara.
"Kalau sekedar memberi saja, tapi tidak ada udang dibalik batu, sah-sah saja, tapi kalau memberi terus ada ijab qobul, yang memberi meminta supaya yang diberi ini memilihnya, itu sudah kategori riswah atau sogok (menyuap)," ujar Toha kepada bangkapos.com, Selasa (24/11/2015)

"Jadi sebagai umat, dalam situasi politik seperti ini, umat harus pandai-pandai membedakan mana yang sogok mana yang sodakoh, kalau hanya sedekah tanpa sedikitpun bermaksud ada udang dibalik batu, boleh saja, kembalikan ke niatnya, lain halnya kalau kalau memberi, tapi yang memberi terus meminta dan mengharapkan agar yang diberi ini memilih dia (si pemberi), itu namanya sudah masuk kategori riswa atau sogok tadi, kalau sudah terjadi sogok menyogok, maka sudah jelas ancamannya, sesuai Hadist Nabi tersebut, ya keduanya sama-sama masuk neraka," jelas Toha

Prakter risywah politik juga dinilai menjadikan demokrasi di Indonesia tidak ideal, karena kandidat yang terpilih pada umumnya hanya bermodalkan materi, tanpa adanya kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan catatan tersebut politikus yang melakukannya, baik dalam Pemilu presiden, kepala daerah, maupun legislatif, tidak sepatutnya masyarakat memilih dia.




deskripsi gambar

0 Response to "SUAP POLITIK , Yang Memberi dan Yang Menerima Masuk NERAKA"

Post a Comment

www.updategeh.com. Powered by Blogger.