Cerita Dibalik #RadioGueMati


Radio swasta ibu kota serentak dead air atau kosong, tidak ada suara penyiar maupun lagu, hanya suara gelombang frekuensi yang terdengar selama lima belas menit sejak pukul 07.45.
Tepat pukul 08.00, siaran kembali mengudara dan terdengar suara Presiden Joko Widodo yang mengaku dirinya seorang pendengar radio. “Emang enak nggak ada radio? Saya Joko Widodo, pendengar radio,” kata Presiden dalam siaran radio.
Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) DKI Jakarta, M. Rafiq, mengaku ide kampanye ini berawal dari aktivitas masyarakat mendengarkan radio di sela-sela kegiatan mereka.
“Terkadang kita tidak menyadari bahwa radio masih menemani kita beraktivitas sampai radionya mati,” kata Rafiq dikutip Antara, Senin (11/12).
Selama 15 menit radio mati, warganet mengumumkan sekaligus bertanya di media massa. Beberapa mengira perangkat radio mereka rusak karena hanya terdengar bunyi gelombang frekuensi saat mereka pindah ke saluran lain. Yang lainnya memilih bertanya ke akun media sosial stasiun radio kesukaan mereka.
Akun Twitter dan Instagram Presiden Joko Widodo tidak luput dari pertanyaan warganet, setelah presiden mengunggah foto tentang radio tak lama setelah #radioguemati. “Respons dari pendengar akhirnya menjadi bukti buat industri radio untuk bilang bahwa radio masih ‘ada’,” kata Rafiq.

Masih banyak peminat
Perlu diketahui, pukul 07.45 masih menjadi “prime time” radio, banyak yang mendengarkan siaran radio saat jam berangkat kantor, terutama mereka yang menggunakan mobil pribadi. Umumnya, mereka mendengarkan informasi lalu lintas, berita terkini atau menghibur diri mendengarkan lagu-lagu yang diputar.
Temuan dalam riset Nielsen Radio Audience Measurement tahun 2016 menyatakan radio memiliki 20 juta orang konsumen di 11 kota besar Indonesia, mereka mendengarkan siaran radio rata-rata 139 menit (2 jam 19 menit) per hari.
Data Nielsen menyebutkan lebih dari setengah pendengar radio adalah muda berusia 10-19 tahun (19 persen) dan 20-34 tahun (38 persen). Generasi X, usia 35-49 tahun menyumbang 28 persen. 
sumber : www.
kabare.co

0 Response to "Cerita Dibalik #RadioGueMati"

Post a Comment